GOA GARBA
Beranda Virtual Tour Galeri Video Informasi
< 1 2 3 >

JEJAK KAKI KEBO IWA

Telapak kaki ini di percaya oleh masyarakat bahwa bekas telapak kaki Kebo Iwa atau Kebo Taruna seorang Mahapatih Kerajaan merangkap Arsitektur yang menyusun tangga tersebut. Salah satu batu dalam penyusunan trsebut selalu goyang tidak mau rapi letaknya di tempat yang ditentukan. Pada saat itu Patih Kebo Iwa menghentakkan kakinya diatas batu, sehingga batu itu tidak goyang atau bergerak lagi. Dari hentakkan kaki tersebut berbekas pada batu tersebut. Sehingga bekas telapak kaki itu dianggap bekas telapak kaki

< 1 2 3 >

GAPURA

Manfaat atau kegunaannya untuk mencapai tempat pemujaan batara shiwa yang ada di pura pengukuran-ukuran yaitu pada candi yang berlambangkan stupa atau lingga dan Yoni.

< 1 2 3 >

POHON PULE

Pohon ini berguna sebagai obat-obatan dan juga sebagai sumber air, kerena musim hujan tumbuhan ini menyimpan air dan dikeluarkan musim kemarau, air tersebut diyakini berguna untuk obat-obatan.

< 1 2 3 >

JAKEDUARA BAGIAN SELATAN

Pancoran ini berfungsi sebagai sarana pembersihan diri atau penyucian bagi para murid (sisia) yang dilakukan oleh para guru suci sebelum melaksanakan kegiatan spiritual atau upacara keagamaan. Proses penyucian ini memiliki makna simbolis sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin agar para sisia siap menerima pengetahuan suci serta bimbingan spiritual dari gurunya. Seiring berjalannya waktu, pancoran ini tetap dipertahankan dan kini difungsikan sebagai tempat patirtan di Pura Pengukur-Ukuran, di mana umat Hindu datang untuk memperoleh air suci (tirtha) sebagai sarana penyegaran rohani dan wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tempat ini tidak hanya memiliki fungsi religius, tetapi juga nilai historis dan budaya yang tinggi sebagai warisan leluhur yang menggambarkan keharmonisan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

< 1 2 3 >

JAKEDUARA BAGIAN TENGAH

Pancoran ini memiliki kesamaan dengan Pancoran Ganesa yang terletak di bagian utara, keduanya dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Kesamaan tersebut terlihat dari gaya arsitektur, bentuk pahatan, serta simbol-simbol yang digunakan, yang mencerminkan karakteristik seni dan keagamaan pada masa itu. Pancoran ini berfungsi sebagai sumber air penting yang memiliki nilai spiritual dan simbolis bagi masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi bukti perkembangan peradaban, sistem pengairan, dan keterampilan arsitektur kuno, serta menunjukkan keterkaitan antara kekuasaan kerajaan, keyakinan spiritual, dan penghormatan terhadap alam pada era Singasari.

< 1 2 3 >

GANESA JAKEDUARA BAGIAN UTARA

Pancoran ini menandakan bahwa tempat ini dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya di Jawa Timur pada abad ke-13. Keberadaan lambang pancoran berkepala singa dan berbadan gajah menjadi bukti otentik yang memperkuat dugaan tersebut. Menurut penjelasan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya, simbol tersebut melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keberanian, yang juga mencerminkan karakter pemerintahan Singasari pada masa itu. Pancoran ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber air suci untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki nilai historis dan artistik yang tinggi, menunjukkan perpaduan antara seni pahat kuno dan simbolisme keagamaan yang khas dari era Singasari.

< 1 2 3 >
×

© 2025 Instiki - Semua Hak Dilindungi